Mau berbagi tulisan?
Kirim tulisan Anda via email ke: mamaarif_smd@yahoo.co.id
Insya Allah akan kami posting jika memang layak.

Welcome inMadrasah

Ini hanya sebuah blog, sebuah persembahan buat akademik, walaupun belum layak disebut suatu persembahan.
Paling tidak, sesuatu yang nyrempet-nyrempet dengan madrasah atau di madrasah, tertuang di sini. Dari sini pula muncul istilah inMadrasah.
Ada yang belum mengenal istilah madrasah?
Madrasah adalah sebuah istilah yang di Indonesia identik dengan lembaga sekolah. Lebih jauh baca Madrasah as School.
Apapun isi tulisan ini, mudah-mudahan menjadi sebuah persembahan.
Showing posts with label education. Show all posts
Showing posts with label education. Show all posts

Tuesday, March 29, 2011

Kiat Menghadapi UN 2011

Tidak terasa, UN 2011 tinggal sebentar lagi. Sekedar mengingatkan kembali, jadwalnya sebagai berikut:


UN untuk SMA/MK, SMALB, dan SMK: 18-21 April 2011

UN untuk SMP/MTs dan SMPLB: 25-28 April 2011, dan

UN untuk SD/MI dan SDLB: 10-12 Mei 2011.


Dari pengalaman mengikuti US yang baru saja dilaksanakan, tentunya menjadi catatan sebagai modal bagaimana menghadapi UN nanti. Hanya saja kadang berbeda dengan US, bisa jadi muncul rasa kurang PD. Padahal sebenarnya, tidak perlu terlalu khawatir - dengan catatan berusaha belajar sebaik-baiknya dengan mengacu pada kisi-kisi UN 2011. Sebab, soal-soal yang akan muncul dalam UN 2011 tidak akan jauh dari kisi-kisi yang ada dalam
lampiran Permendiknas nomor 46 tahun 2010 (klik
di sini jika belum punya).


Pesan dari Tim UjianNasional.org agar bisa sukses Ujian Nasional 2011, sebagai berikut:


Berusahalah sukses UN 2011 dengan kejujuran penuh, jangan mengaharapkan bantuan orang lain dalam mengerjakan soal-soal UN 2011 dan kita harus percaya diri bahwa persiapan yang kita lakukan adalah optimal.


Dan Kiat Umum UN 2011 menurut tim yang peduli UN 2011 itu adalah:


Tidurlah yang cukup supaya kondisi Anda prima dan tidak mengantuk saat ujian berlangsung.

Siapkan alat tulis menulis yang Anda siapkan pada saat ujian, kartus tes, papan pengalas, dan jam tangan (jika ada) sebelum tidur.

Bangun pagi-pagi. Jangan lupa sarapan dan meminta restu kedua orang tua sebelum berangkat ke sekolah.

Usahakan tiba di lokasi ujian paling lambat 30 menit sebelum ujian dimulai.

Jangan lupa membaca doa sebelum memulai menjawab soal.

Relaks, jangan merasa terbebani atau tegang pada saat menjawab soal-soal ujian.

Tanamkan optimisme dan kepercayaan diri bahwa Anda bisa menjawab dengan benar.

Ingat ketegangan dapat membuyarkan konsentrasi Anda!

Jaga Lembar Jawaban Ujian Anda agar tetap bersih, tidak terlipat, jangan sama sekali di corat-coret.

Monday, July 7, 2008

Matematika bagi Srikandi UN SMP tahun 2008

Pelajaran matematika saat ini masih jadi momok sebagian siswa dari SD/MI sampai SMA/MA, termasuk SMK. Sebab katanya merupakan pelajaran paling sukar.


Lain dengan Ratu Meidina, siswa SMP 115 Tebet Jakarta Selatan. Seperti ditulis harian warta kota (24/6/08), matematika justru mudah karena itu mata pelajaran favoritnya. Sejak SD Ratu menyukai pelajaran matematika. Matematika dianggap lebih mudah dan sederhana dibandingkan dengan mata pelajaran lain seperti fisika, biologi, atau bahasa. "Nggak tahu, sepertinya belajar matematika itu enak aja dan cepet ngerti," ujarnya.


Karena kesukaannya pd matematika, Ratu memperoleh nilai 10,00 pada UN SMP. Bukan itu saja, dg nilai UN bhs Indonesia 9,40, bhs Inggris 9,80 dan IPA 9,75, total nilai UN-nya menjadi 38,95. Dan prestasinya ini mengantarkan Ratu sebagai Srikandi Jagoan nilai UN SMP tertinggi se-Indonesia tahun 2008.


Selamat buat Ratu UN SMP! Semoga sukses slalu dan predikat desainer interior sbgmana yg cita2 Ratu bìsa tercapai.


Masih ga percaya pengakuan Ratu pada matematika? Sadari bahwa matematika tak perlu banyak menghapal, tak seperti yang lain, tp harus banyak latihan menyelesaikan soal. Jangan hanya belajar matematika waktu luang atau tenang, harus dicoba pada berbagai kondisi.


Smakin berganti tahun masalah kita, include masalah negara akan makin numpuk dan komplek, maka dibutuhkan orang-orang yang biasa dan terampil menyelesaikan masalah. Dan belajar matematika adalah jawabannya. Menyelesaikan soal2 matematika dari sekarang, supaya terbiasa dengan masalah, sehingga jika di kemudian hari didapatkan masalah bukan jadi stress atau bertindak tidak karuan. Tapi betul2 dihadapi dengan serius. Hanya saja, kita semua berharap mudah2an ketenangan & ketentraman slalu menyertai kita. Amin.

Saturday, April 26, 2008

Pendidikan Nilai

pagi ini di Sumedang ada seminar nasional pendidikan berbasis nilai. salah satunya menghadirkan pembicara bapak Prof. D. H. Enceng Mulyana, MPd. (maaf saya tidak berminat mengatakan nara sumber, sebab setumpuk gelar yang disandangnya diyakini sebagai sebuah prestasi yang tidak akan menggiringnya menjadi nara pidana). profesor ini membawakan materi peran orangtua dalam pendidikan keluarga berbasis nilai dalam perspektif rumahku sekolahku.

tertarik mengangkat ini karena ada ungkapan rumahku sekolahku. profesor yang pernah aktif di hmi ini pasti hapal betul dengan ungkapan baeti jannati (rumahku sorgaku), sehingga mentransfernya untuk menonjolkan pentingnya pendidikan informal (pendidikan keluarga) dengan istilah baeti madrosati (rumahku sekolahku).

pendidikan informal memang nomor satu dan utama dalam pendidikan. begitu pentingnya, dalam hadits disebutkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih atau suci kira-kira) dan orangtuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, atau memajusikannya. itu sebabnya pula, begitu anak lahir langsung diperdengarkan azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. setelah anak mencapai usia tujuh hari, diberi nama yang baik, dicukur rambutnya sampai botak untuk membersihkan penyakit, dan disembelihkan seekor kambing bagi anak perempuan atau dua ekor bagi anak laki-laki (disebut aqiqah). bahkan bagi sebagian orang, berbarengan dengan acara cukur rambut dan aqiqah dilaksanakan hajatan dengan membacakan sejarah nabi. anak yang baru lahir itu suci, maka kebaikan-kebaikan yang diajarkan kepadanya, sejarah nabi yang diberitakan dan bukan sejarah penciptaan anak itu sendiri.

yang terlupakan, terutama bagi sebagian keluarga yang memiliki baby sister, pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada baby sister. ibunya hanya menyusui saat anak butuh susu (itu pun kalau air susu ibunya) dan bapaknya sibuk mencari nafkah buat keluarga. lebih parah lagi, jika anak sudah bersekolah, seolah-olah orangtua sudah lepas tanggung jawab terhadap pendidikan anak. salah besar!

pendidikan itu bukan sekedar proses pengayaan intelektual, tetapi juga menumbuhkan benih-benih adab manusia untuk mengecambahkan kualitas luhur kemanusiaan, kata pak profesor. itu akan tercipta apabila ada keharmonisan antara pendidikan sekolah dengan pendidikan keluarga, di samping memang pendidikan sekolah pun harus menumbuhkan benih-benih adab manusia. ini adalah pendidikan nilai, dan sebagai lingkungan yang paling akrab dengan kehidupan anak, keluarga memiliki peran yang sangat penting dan strategis bagi penyadaran, penanaman, dan pengembangan nilai.

diingatkan oleh Dr. Rohmat Mulyana, hal krusial yang dihadapi pendidikan nilai di keluarga adalah kecenderungan menipisnya ikatan emosional anak terhadap orangtua atau sebaliknya. Keadaaan ini terjadi sebagai akibat pergeseran nilai-nilai kehidupan manusia yang merembes ke dalam kehidupan keluarga. Rupanya di sinilah pentingnya mengangkat isu rumahku sekolahku, yakni pendidikan nilai di keluarga adalah menjadikan keluarga sebagai zona iklim pembelajarn yang kondusif bagi anak.

sekarang, bagaimana jika dibalikkan menjadi sekolahku rumahku? asyik juga kayaknya. hanya saja, seperti halnya pendidikan keluarga yang tumbuh dari kesadaran moral sejati antar orangtua dan anak, pendidikan sekolah mengikuti tatanan ketentuan yang diformalkan. namun begitu, karena anak disekolahkan pada dasarnya memindahkan tanggung jawab pendidikan orangtua kepada tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah selama anak bersekolah, maka kasih sayang penanggung beban hendaknya seperti layaknya kasih sayang orangtua kepada anaknya.

yang terpenting sekarang, anak adalah harapan masa depan. rasa kebersamaan dan kesatuan antara sekolah dan orangtua bisa memunculkan konsep berbagi rasa sebagai wujud tanggung jawab bersama.

hit counters

home | education | ©2008 inmadrasah